![]() |
Siswa MTs Negeri Wanayasa sedang praktek kerajinan
tangan membuat anyaman piring dari lidi kelapa.
|
Sejak tahun 2007 MTs Negeri Wanayasa ikut
mendukung kerajinan lokal yang ada dilingkungan sekitar, khususnya untuk
kerajinan anyaman lidi. Materi anyaman ini dimasukan kedalam struktur kurikulum
yang dikemas dalam pelajaran muatan lokal. hal ini dimaksudkan untuk menunjang
keberlangsungan anyaman ini dimasa yang akan datang.
Pelajaran mulok anyaman ini pertama kali
diprakarsai oleh Bapak Karman, S.Ag, M.Pd.I yang waktu itu menjabat sebagai PKS
Kesiswaan. Beliau menilai
kerajinan ini sangat perlu dikembangkan. Selaku tokoh
masyarakat beliau berharap generasi muda di sekitar desa Ciherang bisa melanjutkan
tradisi menganyam yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan dikembangkan
secara professional di lembaga pendidikan formal.
Anyaman piring tersebut yang terbuat dari lidi
ini merupakan kerajinan yang berasal dari Sumatera. Namun sejak tahun 2000 kerajinan
tersebut muali masuk ke wilayah Banjarsari Khusunya masyarakat desa Ciherang.
Kerajinan ini sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi beberapa keluarga di
desa Ciherang ini, sehingga banyak dari masyarakat desa Ciherang yang menguasai
kerajinan ini. Seiring perkembangan zaman, generasi penerus pembuat kerajinan
ini ditakutkan lambat laun akan menghilang. Oleh karenanya MTsN Wanayasa
mempunyai fungsi sebagai pengembang budaya memfasilitasi agar budaya lokal
warisan Bangsa berkembang menjadi hasanah budaya Nasional khususnya Kabupaten
Ciamis.
Sekarang ini tidak sedikit dari anak-anak
mereka yang memilih menjadi pegawai dan pekerja kantoran. Keadaan ini sangat
memprihatinkan karena banyak anak-anak mereka yang tidak mewarisi keahlian
dalam membuat anyaman piring tersebut. Kerajinan ini patut dikembangkan, karena
anyaman tersebut bisa dikatakan warisan kebudayaan turun temurun yang harus di
pertahankan dan di kembangkan.
Dengan adanya Mata Pelajaran ini diharapkan
siswa mampu menguasai dan mengembangkan anyamn piring, sehingga mereka dapat
membantu orang tua mereka dalam mencari penghasilan tambahan. lewat media
tersebut pula diharapkan anak-anak menguasai dengan sebaik-baiknya agar menjadi
bekal saat terjun ke masyarakat. ada yang paling penting yakni mereka dapat
terus mengembangkan kerajinan yang menjadi ciri khas daerah Bajarsari dan
mereka punya keberanian untuk berusaha mandiri (wirausaha) serta terlepas dari
ketergantungan kepada orang lain, mereka juga mempunyai semangat jiwa usaha
(enteurpreneur) dan mandiri.
Bpk Muhammad Ishak Saefulloh, M.Pd selaku
kepala madrasah sangat mengapresiasi terobosan ini. Hal itu terbukti ketika
beliau memimpin madrasah ini sejak September 2011 lalu, beliau langsung
menyambut baik dengan cara mendatangkan guru ahli. Kepala sekolah mendatangkan
guru yang sudah mahir di bidang anyaman yakni Ibu Mimin, S.Pd. Setelah kurang
lebih selama 5 tahun pelajaran menganyam ini mendapat sambutan yang bagus dari
pengawas kemenag Banjarsari. Bpk Drs. H. Nurjamil Alisyahbana, M.M Sebagai
pengawas mengatakan bahwa MTsN Wanayasa merupakan sekolah yang menjadi pelopor
pertama yang memasukan pelajaran anyaman piring kedalam kurikulum sekolah.
Keadaan ini bisa membuat sekolah-sekolah
lain khususnya di wilayah Banjarsari bisa mengikuti langkah MTsN wanayasa
tersebut.
Lihat Foto :KLIK DISINI
Lihat Foto :KLIK DISINI

Kalahlah Smp2 d skitarnya sama MTsN wanayasa .. Hehe
BalasHapus